Pengalaman Naik PELNI

Suasana riuh dan puluhan macam bebauan bercampur baur di Pelni. Karena perjalanan kali ini kami harus berkeliling pulau-pulau, Pelni adalah alat transportasi yang paling terjangkau. Selain dari alasan Pelni yang paling bisa tepat janji, mengingat pesawat-pesawat ke kepulauan seringkali membatalkan penerbangannya tiba-tiba.

IMG_8449

Kali ini kami menggunakan dua kapal. KM. Tidar untuk pergi dan KM. Kelimutu untuk pulang dari Banda. KM. Tidar jauh lebih besar dibanding KM. Kelimutu. Namun mereka sama-sama memiliki 4 kelas yang tersedia; kelas ekonomi, kelas 3, 2 dan 1. Untuk menghemat biaya kami pun memilih kelas ekonomi, lagipula bila membeli tiket kelas 2 dan 3 pria dan wanita akan dipisah kecuali kelas 1 yang harganya sama seperti tiket pesawat. Kapal sudah menyediakan makan, bioskop mini dan live music.

IMG_8443

Dalam perjalanan menuju Kepulauan Aru, kami membutuhkan waktu sekitar 2 hari perjalanan dari Ambon. Cukup bosan, namun kami bisa mengatasinya dengan mengobrol. Penumpang di dek kami terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok satu adalah orang-orang Madiun yang akan pergi menjadi pegawai perusahaan kayu di Kaimana, Papua dan para nelayan Sulawesi yang akan mencari ikan di Dobo, Kepulauan Aru.

Mereka sudah berada dalam kapal kurang lebih 5 hari. Kami saja yang 2 hari rasanya begitu lama apalagi mereka. Hal yang paling mengganggu saat di dek penumpang adalah asap rokok yang begitu tebal. Di hari kedua, Intan sesak dan matanya perih. Satu ruangan banyak perokok kretek, belum lagi itu adalah ruangan berAC.

IMG_0859

IMG_8476

Untungnya itu adalah hari yang cukup pendek. Dini hari kapal sudah merapat di Dobo dan kami pun turun. Menyenangkan sekali dapat menghirup udara segar Aru setelah sekian lama terbelenggu asap rokok. Saat hendak pulang dari Banda Neira kami tidak lagi menggunakan KM. Tidar. Ada KM. Kelimutu yang sudah menunggu kami sejak jam 4 dini hari.

IMG_8466

KM. Kelimutu lebih kecil dan sempit dibanding KM. Tidar. Bermodalkan satu tikar kami pun mencoba tidur dalam perjalanan. KM. Kelimutu tidak terlalu nyaman. Laju kapalnya pun lebih lambat. Perjalanan dari Banda Neira ke Ambon ditempuh dalam waktu 11 jam. Sebenarnya kedua kapal ini sangat memungkinkan untuk diremajakan agar lebih nyaman. Sayang sekali sepertinya pemerintah tidak terlalu menganggap penting hal ini.

Pelni menjadi transportasi utama masyarakat kepulauan. Tanpa Pelni mereka akan sulit mengakses banyak hal. Dilematika Pelni dan kenyamanan. Masyarakat tidak diberi pilihan untuk ini. Namun akan lebih baik bila fasilitas umum diperbaharui. Pasti akan lebih banyak masyarakat dari segala kalangan yang memilih untuk naik Pelni daripada pesawat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *